Green Day kembali membuktikan bahwa usia panjang sebuah band bukan alasan untuk berhenti terdengar liar. Trio punk rock asal California itu melepas “I’m Never Gonna R.I.P.”, sebuah lagu berdurasi singkat yang menjadi pintu masuk menuju film komedi musikal Nimrods. Alih-alih merilis lagu yang terlalu rapi demi mengejar playlist modern, mereka memilih dentuman cepat, gitar kasar, dan energi yang terasa seperti direkam setelah tiga orang masuk ke studio dengan satu tujuan sederhana: membuat kebisingan yang menyenangkan. Kehadiran lagu baru Green Day ini juga bukan sekadar tambahan katalog, karena musiknya dirancang untuk menghubungkan karier panjang band dengan cerita anak muda yang sedang mengejar mimpi. Dalam waktu sekitar dua menit, “I’m Never Gonna R.I.P.” berhasil mengingatkan pendengar bahwa Green Day masih memahami cara menciptakan momen besar tanpa harus membuat lagu yang panjang atau terlalu rumit.
Judul lagunya sendiri terdengar seperti pernyataan bahwa Green Day menolak berubah menjadi peninggalan museum rock. Kalimat “I’m Never Gonna R.I.P.” membawa sikap percaya diri, sedikit humor gelap, dan semangat pemberontakan yang telah menjadi bahasa utama band sejak awal karier mereka. Lagu ini muncul ketika banyak grup dari generasi 1990-an mulai lebih sering menjual nostalgia daripada membangun cerita baru, tetapi Green Day mengambil jalur yang berbeda. Mereka memang membawa masa lalu ke dalam proyek Nimrods, namun masa lalu tersebut tidak dipajang sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh disentuh. Sebaliknya, seluruh proyek terasa seperti upaya menghidupkan kembali kekacauan masa muda agar dapat dinikmati oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika Dookie meledak di pasaran.
Lagu Baru Green Day Datang dengan Energi Lama
“I’m Never Gonna R.I.P.” bergerak cepat sejak detik pertama dan hampir tidak memberikan ruang bagi pendengar untuk menarik napas. Gitar Billie Joe Armstrong terdengar langsung, kasar, dan tidak dibebani lapisan produksi yang berlebihan, sementara permainan bass Mike Dirnt membuat lagu ini tetap terasa hidup di tengah kecepatannya. Di belakang mereka, Tré Cool menjaga ritme dengan gaya yang agresif tetapi tetap menyisakan rasa humor, sebuah ciri yang membuat permainannya selalu mudah dikenali. Susunan musiknya mungkin sederhana, namun kesederhanaan itu justru menjadi senjata utama karena setiap elemen memiliki fungsi yang jelas. Green Day tidak mencoba membuktikan bahwa mereka bisa menjadi band paling eksperimental di dunia, sebab mereka lebih tertarik menunjukkan bahwa tiga akor yang dimainkan dengan keyakinan masih mampu terasa berbahaya.
Durasi lagu yang hanya sekitar dua menit juga terasa sangat relevan dengan karakter punk rock yang menjadi akar Green Day. Tidak ada intro panjang, solo gitar yang dipaksakan, atau bagian tambahan yang sekadar digunakan untuk membuat lagu terlihat lebih megah. Semua bergerak menuju satu ledakan singkat yang selesai sebelum energinya sempat turun. Pendekatan seperti ini membuat “I’m Never Gonna R.I.P.” mudah diputar berulang kali tanpa terasa melelahkan, terutama bagi pendengar muda yang terbiasa mengonsumsi musik dalam potongan cepat. Namun, lagu ini tetap tidak terdengar seperti produk yang sengaja dibuat untuk mengejar algoritma karena strukturnya lahir dari tradisi punk yang memang sejak awal menyukai kecepatan dan efisiensi.
Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah band sebesar Green Day masih bersedia terdengar seolah-olah mereka sedang bermain di ruangan latihan kecil. Selama puluhan tahun, mereka telah tampil di stadion, menerima penghargaan besar, dan menjual album dalam jumlah yang sulit dicapai oleh band rock masa kini. Meski demikian, “I’m Never Gonna R.I.P.” tidak dibangun dengan kemewahan produksi stadion yang terlalu lebar. Lagu ini justru membawa nuansa sebuah band yang sedang berlomba menyelesaikan lagu sebelum pemilik tempat latihan mematikan listrik. Perasaan spontan tersebut memberi nyawa pada lagu dan menjadikannya cocok sebagai soundtrack film tentang anak-anak muda yang belum punya apa-apa selain keberanian.
Nimrods Bukan Film Biografi Green Day Biasa
Nimrods tidak mengikuti formula film biografi musik yang menceritakan perjalanan sebuah band dari masa kecil, konflik internal, ketenaran, hingga penebusan emosional. Film ini justru berfokus pada tiga sahabat sekolah menengah yang melakukan perjalanan menuju Los Angeles karena percaya bahwa band mereka mendapat kesempatan membuka konser Green Day pada malam Tahun Baru. Masalahnya, keyakinan tersebut berdiri di atas kesalahpahaman, sehingga perjalanan mereka berubah menjadi rangkaian kekacauan yang dipenuhi keputusan impulsif. Premis itu terdengar konyol, tetapi di balik komedinya terdapat kisah tentang persahabatan, ambisi, dan keberanian untuk mengambil risiko sebelum kehidupan menjadi terlalu serius. Dengan pendekatan tersebut, Green Day tidak menjadi objek utama cerita, melainkan simbol dari mimpi yang terlihat sangat jauh tetapi cukup kuat untuk membuat tiga remaja terus bergerak.
Cerita film ini mengambil inspirasi dari pengalaman awal Green Day ketika mereka masih melakukan perjalanan menggunakan van, bermain di tempat-tempat kecil, dan hidup tanpa kepastian besar. Sebelum dikenal melalui album Dookie pada 1994, Billie Joe Armstrong, Mike Dirnt, dan Tré Cool telah menjalani kehidupan tur yang jauh dari kemewahan. Mereka harus menempuh perjalanan panjang, tidur dengan fasilitas terbatas, dan tampil di hadapan penonton yang jumlahnya terkadang tidak sebanding dengan jarak yang ditempuh. Masa tersebut menjadi fondasi hubungan mereka sebagai band sekaligus membentuk cara Green Day memahami komunitas punk. Nimrods mengambil semangat itu, lalu mengubahnya menjadi cerita fiksi yang lebih mudah dinikmati tanpa harus mengetahui seluruh sejarah band.
Keputusan untuk tidak membuat biografi konvensional terasa tepat karena sejarah Green Day sudah terlalu besar untuk diringkas hanya melalui daftar peristiwa penting. Sebuah film yang mencoba mencakup semua fase karier mereka berisiko berubah menjadi rangkaian adegan konser, pertengkaran, dan pencapaian komersial yang sudah sering digunakan dalam genre serupa. Melalui Nimrods, semangat Green Day dapat hadir tanpa harus meniru penampilan para personelnya secara berlebihan. Penonton diajak merasakan bagaimana musik mampu membuat seseorang melakukan hal bodoh, berani, dan tidak masuk akal demi kesempatan yang belum tentu nyata. Itu merupakan bentuk penghormatan yang lebih jujur terhadap punk rock dibandingkan film yang hanya sibuk menciptakan ulang pakaian dan gaya rambut dari masa lalu.
Perjalanan Tiga Remaja Menuju Los Angeles
Tiga karakter utama dalam Nimrods diperankan oleh Mason Thames, Kylr Coffman, dan Ryan Foust. Mereka membawa dinamika sebuah band muda yang belum memiliki pengalaman, tetapi sudah mempunyai keyakinan berlebihan terhadap masa depan. Perjalanan lintas wilayah menuju Los Angeles menjadi ruang bagi ketiganya untuk menguji persahabatan sekaligus menghadapi kenyataan bahwa mimpi besar sering datang bersama informasi yang tidak lengkap. Di sepanjang perjalanan, mereka tidak hanya mengejar kesempatan tampil bersama Green Day, tetapi juga mencari identitas masing-masing sebagai musisi dan sebagai individu. Cerita semacam ini membuat film dapat berbicara kepada penonton yang pernah merasa bahwa satu kesempatan kecil mampu menentukan seluruh arah hidupnya.
Film tersebut juga didukung oleh nama-nama seperti Jenna Fischer, Angela Kinsey, Mckenna Grace, Fred Armisen, Bobby Lee, dan Sean Gunn. Kehadiran para pemain dengan latar komedi yang kuat memberi petunjuk bahwa Nimrods tidak akan memperlakukan dunia rock sebagai wilayah yang terlalu serius. Musik mungkin menjadi pusat ceritanya, tetapi humor diperlukan agar ambisi ketiga karakter utama tidak berubah menjadi drama yang berat. Kombinasi pemain muda dan aktor berpengalaman dapat menciptakan benturan generasi yang menarik, terutama ketika karakter dewasa harus menghadapi keputusan nekat para remaja. Film ini tampaknya ingin menangkap energi sebuah road trip yang kacau, bukan membuat legenda Green Day terlihat sempurna.
Soundtrack Nimrods Menyatukan Banyak Era
“I’m Never Gonna R.I.P.” menjadi lagu baru utama dalam soundtrack Nimrods, tetapi album pendamping film tersebut menawarkan paket yang jauh lebih luas. Soundtrack berisi 30 lagu yang menggabungkan materi Green Day dari berbagai fase karier dengan musik dari sejumlah artis dan karakter fiksi dalam film. Sebanyak 22 lagu Green Day dipilih untuk membentuk jalur nostalgia yang dapat memperkenalkan perjalanan band kepada penonton baru. Pilihan tersebut membuat soundtrack berfungsi seperti pintu masuk menuju katalog mereka, bukan hanya kumpulan musik latar yang kehilangan makna setelah film selesai diputar. Album ini dijadwalkan hadir pada 31 Juli 2026, beberapa minggu sebelum filmnya memasuki bioskop pada 14 Agustus 2026.
Soundtrack tersebut juga memuat empat rekaman live Green Day yang sebelumnya belum dirilis. Materi itu berasal dari penampilan mereka di Palladium, Los Angeles, yang turut menjadi bagian dari dunia film. Rekaman live biasanya menghadirkan sisi Green Day yang berbeda karena lagu-lagu mereka mendapatkan tenaga tambahan dari interaksi langsung dengan penonton. Dalam konteks Nimrods, rekaman tersebut membantu menghapus batas antara kisah fiksi dan sejarah nyata band. Penonton dapat melihat karakter film mengejar bayangan Green Day, sementara pendengar soundtrack mendapatkan bukti bagaimana band itu benar-benar terdengar ketika berada di atas panggung.
Selain Green Day, album ini menghadirkan musik dari The Paradox, Ultra Q, dan Mckenna Grace. Ada pula empat lagu dari Analog Dogs, band fiksi yang menjadi pusat perjalanan dalam cerita Nimrods. Kehadiran lagu-lagu band fiksi merupakan keputusan penting karena penonton perlu mempercayai bahwa para karakter utama benar-benar hidup untuk musik mereka sendiri. Tanpa materi musikal yang meyakinkan, perjalanan menuju Los Angeles hanya akan terasa seperti lelucon panjang tanpa fondasi emosional. Dengan memberikan identitas suara kepada Analog Dogs, film memiliki peluang menciptakan dunia yang terasa utuh bahkan ketika Green Day tidak berada di layar.
Konsep tersebut mengingatkan pada film-film musik yang berhasil membuat band fiksi terasa cukup nyata untuk memiliki penggemar sendiri. Tantangannya adalah menciptakan lagu yang terdengar belum matang sesuai usia karakter, tetapi tetap menarik untuk didengarkan di luar konteks film. Analog Dogs tidak boleh terdengar terlalu sempurna karena mereka diceritakan sebagai band muda yang masih mengejar kesempatan pertama. Pada saat yang sama, musik mereka harus mempunyai kualitas yang dapat menjelaskan mengapa ketiga anggota band bersedia melakukan perjalanan penuh risiko. Soundtrack Nimrods akhirnya menjadi arena tempat pengalaman Green Day bertemu dengan energi mentah generasi baru.
Judul Nimrods Menyimpan Hubungan dengan Masa Lalu
Sebelum menggunakan judul Nimrods, film ini dikenal sebagai New Years Rev. Perubahan nama tersebut membuat hubungannya dengan Green Day menjadi jauh lebih kuat karena langsung mengingatkan penggemar pada album Nimrod yang dirilis pada 1997. Album kelima itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Green Day karena memperlihatkan keberanian mereka keluar dari pola punk rock yang sudah membuat mereka terkenal. Di dalamnya terdapat lagu-lagu cepat, eksperimen gaya, hingga “Good Riddance (Time of Your Life)” yang kemudian berkembang menjadi salah satu lagu paling dikenal dalam katalog mereka. Penggunaan nama Nimrods terasa seperti jembatan antara keberanian bereksperimen pada masa lalu dan kisah anak muda yang sedang berusaha menemukan suara mereka sendiri.
Kata “nimrod” juga memiliki kesan nakal yang cocok dengan karakter humor film. Dalam penggunaan sehari-hari, kata itu sering dipakai untuk menyebut seseorang yang bertindak bodoh atau ceroboh, meskipun sejarah katanya jauh lebih kompleks. Tiga remaja yang menempuh perjalanan karena salah memahami kesempatan konser tentu cocok disebut sebagai sekelompok nimrod dalam pengertian yang penuh kasih. Mereka mungkin tidak mengambil keputusan paling masuk akal, tetapi justru ketidakrasionalan itu yang membuat perjalanan mereka layak diceritakan. Judul tersebut mampu merangkum kekacauan, nostalgia, dan hubungan dengan Green Day hanya dalam satu kata.
Bagi penggemar lama, pemilihan judul ini dapat membangkitkan ingatan terhadap fase ketika Green Day mulai menunjukkan bahwa mereka tidak ingin terjebak sebagai band dengan satu formula. Sementara bagi penonton baru, Nimrods tetap bekerja sebagai judul komedi yang mudah diingat tanpa membutuhkan pengetahuan tentang album 1997. Strategi dua lapis seperti ini membuat film dapat melayani basis penggemar tanpa menutup pintu bagi khalayak yang lebih luas. Green Day memahami bahwa nostalgia paling efektif bukanlah nostalgia yang terus-menerus meminta penonton mengenali referensi. Nostalgia bekerja lebih baik ketika detail lama diberi fungsi baru dalam cerita yang dapat berdiri sendiri.
Green Day Memperluas Cerita di Luar Album
Proyek Nimrods memperlihatkan bagaimana sebuah band dapat memperluas dunianya tanpa kehilangan identitas utama. Green Day tidak hanya menyediakan lagu, tetapi juga terlibat sebagai produser melalui Billie Joe Armstrong, Mike Dirnt, dan Tré Cool. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa film ini bukan proyek berlisensi yang sekadar memakai nama besar mereka untuk menarik penonton. Ceritanya dibangun dari pengalaman yang mereka kenal secara langsung, terutama kehidupan di jalan sebelum kesuksesan besar datang. Karena itu, lagu baru Green Day terasa seperti bagian dari narasi, bukan materi promosi yang ditempelkan pada menit terakhir.
Billie Joe Armstrong juga memiliki hubungan kreatif sebelumnya dengan sutradara dan penulis Lee Kirk. Keduanya pernah bekerja bersama dalam film Ordinary World, ketika Armstrong memainkan karakter seorang mantan musisi punk yang berusaha berdamai dengan kehidupan dewasanya. Hubungan tersebut memberi Lee Kirk pemahaman yang cukup dekat tentang humor, kegelisahan, dan karakter musikal Armstrong. Dalam Nimrods, sudut pandangnya bergerak ke arah yang berbeda karena cerita berfokus pada masa ketika para musisi muda belum menghadapi beban kedewasaan. Hasilnya berpotensi menjadi pasangan menarik bagi Ordinary World: satu film melihat mimpi musik setelah kehidupan berubah, sementara film lainnya melihat mimpi itu ketika semuanya masih mungkin terjadi.
Di tengah perubahan industri hiburan, keterlibatan band dalam film juga menjadi strategi untuk menjaga katalog musik tetap hidup. Lagu lama dapat memperoleh konteks baru ketika ditempatkan dalam adegan yang tepat, sementara lagu baru mendapatkan cerita visual yang membuatnya lebih mudah diingat. Penonton yang datang karena menyukai komedi remaja mungkin pulang dengan rasa penasaran terhadap album-album Green Day. Sebaliknya, penggemar lama yang datang karena nama band dapat menemukan aktor, musisi, dan cerita baru di dalam film. Pola pertukaran audiens tersebut menjadi semakin penting ketika album, film, konser, dan konten digital tidak lagi berjalan sebagai produk yang sepenuhnya terpisah.
Mengapa Lagu Singkat Ini Terasa Penting
Pada permukaan, “I’m Never Gonna R.I.P.” mungkin hanya terlihat seperti satu lagu soundtrack berdurasi dua menit. Namun, lagu tersebut membawa pesan yang lebih besar mengenai cara Green Day memandang keberlanjutan karier mereka. Mereka tidak sedang berusaha terdengar persis seperti usia 20 tahun, tetapi juga tidak ingin menjadi band yang hanya mengandalkan reputasi. Energi masa muda diambil kembali, kemudian ditempatkan dalam proyek yang membahas generasi baru dan kegilaan mengejar mimpi. Lagu ini menjadi bukti bahwa relevansi tidak selalu diperoleh dengan mengikuti tren terbaru, karena terkadang identitas yang dijalankan dengan penuh keyakinan justru terasa lebih segar.
Rock modern sering berada dalam posisi aneh karena harus bersaing dengan genre yang bergerak lebih cepat di platform digital. Banyak band kemudian memperhalus suara, mempersingkat struktur, atau menambahkan elemen populer agar lebih mudah masuk ke berbagai playlist. Green Day memang menggunakan durasi pendek, tetapi mereka tidak mengorbankan karakter dasar demi terdengar kekinian. Gitar tetap dominan, drum tetap agresif, dan vokal Armstrong masih membawa nada mengejek yang telah menjadi cirinya. Dalam lanskap berita musik terbaru, keputusan untuk tetap lugas justru dapat menjadi pembeda ketika terlalu banyak rilisan berusaha terdengar cocok untuk semua orang.
Lagu ini juga menunjukkan bahwa musik soundtrack tidak harus berubah menjadi balada besar atau lagu sinematik yang terlalu sadar terhadap adegan. “I’m Never Gonna R.I.P.” terdengar seperti lagu Green Day yang dapat hidup tanpa bantuan film. Pendengar tidak perlu mengetahui plot Nimrods untuk menikmati ritmenya, tetapi pengetahuan tentang film membuat lirik dan energinya terasa semakin masuk akal. Kemandirian semacam itu penting agar lagu tidak kehilangan daya setelah masa promosi film berakhir. Soundtrack terbaik selalu mempunyai dua kehidupan, yaitu sebagai bagian dari cerita visual dan sebagai musik yang tetap dicari bertahun-tahun kemudian.
Nostalgia yang Tidak Berhenti pada Kenangan
Green Day jelas menggunakan nostalgia sebagai salah satu kekuatan utama proyek ini, tetapi mereka tidak membiarkannya menjadi satu-satunya alasan untuk peduli. Daftar lagu lintas era, judul yang merujuk pada Nimrod, dan cerita yang terinspirasi masa tur awal memang dirancang untuk menyentuh ingatan penggemar. Namun, kehadiran lagu baru, band fiksi, serta pemain muda membuat keseluruhan proyek terus bergerak ke depan. Nostalgia di sini bukan sekadar ajakan untuk kembali ke 1990-an, melainkan cara memperlihatkan bahwa kegelisahan anak muda tidak banyak berubah. Setiap generasi tetap memiliki band favorit, perjalanan yang tampak mustahil, dan satu keputusan nekat yang kemudian dikenang sepanjang hidup.
Pendekatan ini dapat membantu Green Day berkomunikasi dengan penonton yang mengenal mereka bukan dari MTV atau toko kaset, melainkan dari video pendek, layanan streaming, dan potongan konser di media sosial. Generasi baru mungkin pertama kali mendengar “Basket Case” atau “American Idiot” beberapa dekade setelah lagu itu dirilis. Bagi mereka, sejarah Green Day tidak hadir secara kronologis karena semua era tersedia pada layar yang sama. Nimrods memberikan alur cerita yang dapat menyatukan potongan-potongan tersebut melalui pengalaman tiga karakter muda. Film dan soundtrack akhirnya berfungsi sebagai peta yang menghubungkan masa lalu band dengan kebiasaan konsumsi budaya masa kini.
Dampak Nimrods bagi Generasi Baru Penggemar Punk
Film bertema musik sering menjadi jalan pertama bagi penonton muda untuk menemukan genre yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka. Jika Nimrods mampu menghadirkan punk sebagai ruang yang menyenangkan, berantakan, dan penuh rasa kebersamaan, film ini dapat membuka pintu menuju eksplorasi yang lebih luas. Penonton mungkin mulai dari soundtrack, lalu bergerak ke album Green Day, band East Bay, dan sejarah komunitas punk independen. Proses tersebut jauh lebih organik dibandingkan kampanye yang secara langsung meminta generasi baru menghargai musik lama. Cerita yang menarik membuat rasa penasaran tumbuh tanpa terasa seperti pelajaran sejarah.
Punk dalam film ini juga tidak perlu ditampilkan sebagai seragam gaya yang hanya terdiri dari jaket kulit, rambut berwarna, dan sikap marah. Inti punk Green Day pada masa awal justru berada pada keberanian menciptakan ruang sendiri ketika industri belum memberikan tempat. Tiga remaja yang tetap berangkat menuju Los Angeles meskipun peluangnya tipis mencerminkan semangat tersebut dalam bentuk yang mudah dipahami. Mereka tidak menunggu validasi sempurna, peralatan terbaik, atau rencana bisnis yang matang sebelum bergerak. Keberanian yang sedikit bodoh itu menjadi alasan mengapa kisah mereka terasa dekat dengan siapa pun yang pernah memulai sesuatu tanpa jaminan keberhasilan.
Di sisi lain, film ini berpotensi memperlihatkan bahwa kehidupan band tidak hanya terdiri dari momen tampil di atas panggung. Ada perjalanan panjang, konflik kecil, masalah kendaraan, kesalahpahaman, dan rasa takut bahwa semua usaha akan berakhir sia-sia. Bagian-bagian tidak glamor tersebut justru membentuk ikatan yang membuat sebuah band mampu bertahan. Green Day memahami pengalaman itu karena sejarah mereka sendiri tumbuh dari perjalanan panjang sebelum dikenal secara global. Ketika pengalaman tersebut diterjemahkan melalui komedi, penonton dapat menikmati kekacauannya sambil tetap memahami harga yang harus dibayar untuk mengejar musik.
Kesimpulan: Green Day Belum Berniat Beristirahat
“I’m Never Gonna R.I.P.” datang sebagai lagu pendek, tetapi menyimpan energi yang cukup untuk membuka babak baru dalam hubungan Green Day dengan dunia film. Lagu tersebut membawa karakter punk rock yang kasar dan cepat, lalu menempatkannya di tengah cerita tentang tiga anak muda yang melakukan perjalanan karena terlalu percaya pada mimpi mereka. Melalui soundtrack berisi 30 lagu, rekaman live yang belum pernah dirilis, dan kontribusi dari band fiksi maupun musisi lain, Nimrods berkembang menjadi proyek yang lebih besar daripada promosi film biasa. Green Day menggunakan sejarah mereka sebagai bahan bakar, bukan sebagai tempat untuk bersembunyi dari perubahan zaman. Hasilnya adalah proyek yang terasa penuh nostalgia, tetapi tetap memiliki denyut baru.
Pada akhirnya, lagu baru Green Day ini menyampaikan pesan yang sama dengan judulnya: band tersebut belum berniat menghilang dengan tenang. Mereka masih ingin menulis lagu cepat, membuat film yang kacau, dan mengajak generasi berikutnya percaya bahwa perjalanan bodoh bersama teman dapat menjadi awal dari sesuatu yang besar. Nimrods mungkin bercerita tentang band fiksi yang mengejar kesempatan palsu, tetapi emosi di baliknya berasal dari pengalaman nyata sebuah trio yang pernah hidup di dalam van sebelum menaklukkan dunia. Ketika filmnya tiba di bioskop dan soundtrack-nya mulai diputar, penggemar akan melihat bagaimana masa lalu Green Day bertemu dengan masa depan tanpa kehilangan suara khasnya. Selama mereka masih mampu menghasilkan ledakan dua menit yang terdengar sehidup ini, kalimat “I’m Never Gonna R.I.P.” terasa bukan sebagai lelucon, melainkan sebagai janji.